Archive for July, 2008

Lagi.. “Korban” Pengobatan Alternatif..

Kemarin, tanggal 20/7 saat saya sedang jaga UGD di salah satu rumah sakit swasta, datang seorang wanita berusia 34 tahun, Ny. L, yang datang dengan keluhan mual dan muntah, suatu keluhan yang “biasa” saja sebenarnya. Yang menarik perhatian saya adalah, Ny. L berjalan dengan terpincang pincang sambil berpegangan dengan suaminya. Setelah saya periksa keadaan umumnya, baru saya lihat kondisi kakinya.. dan terkejutlah saya mengetahui bahwa pergelangan kaki kanannya mengalami suatu deformitas (kelainan bentuk), atau “bengkok” (lihat foto).

Menurut Ny. L, awalnya beliau kecelakaan kemudian patah tulang betis, dan menurut dokter harusnya dioperasi. Namun karena pertimbangan biaya akhirnya Ny. L memilih untuk ke pengobatan alternatif, dan bisa kita lihat hasilnya di foto. Sangat amat disayangkan, di usianya yang masih sangat produktif, Ny. L harus menderita seperti ini. Masalah biaya, harusnya Ny. L dimotivasi untuk mengurus JPS/Gakin. Namun sayangnya akibat membengkaknya tagihan askes gakin, proses administrasi untuk pendaftaran gakin menjadi semakin rumit. Di RSSA Malang misalnya, apabila seorang pasien datang ke UGD dengan membawa kartu GAKIN, pasien tersebut belum berhak untuk mendapatkan pengobatan secara gratis, karena kartu tersebut masih harus di “verifikasi” ulang oleh petugas askes yang stand by 24 jam di RSSA. Jadi, seandainya kartu tersebut dinyatakan tidak berlaku, maka terpaksa pasien harus membayar semua biaya pengobatan. Masalahnya.. kita tidak tahu, apa dasar petugas askes tersebut untuk menyatakan kartu tersebut sah atau tidak. Di lain pihak, tindakan askes untuk memperketat pemberlakuan gakin ini memang dapat dimengerti, mengingat di lapangan banyak sekali masyarakat yang “mengaku-aku” miskin hanya demi mendapatkan pengobatan gratis yang bukan haknya. Lihat saja di salah satu bangsal RSSA Malang yang sebagian besar dihuni pasien Gakin, mereka2 yang mendapat pengobatan gratis ternyata masih sanggung membeli handphone merk terkenal, belum lagi perhiasan-perhiasan yang terpasang di tangan dan lehernya. Serba salah… Oleh karena itulah, kata-kata “korban” pada judul artikel ini saya beri tanda petik, karena kasus2 seperti ini memang bukan murni kesalahan pengobatan alternatif..

Melihat kondisi kaki Ny. L sekarang, menurut saya sama saja dengan tidak mendapatkan pengobatan. Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya mengenai patah tulang, bahwa tulang yang patah memiliki kemampuan sendiri untuk menyambung, masalahnya, apakah setelah proses penyambungan itu tulang dapat berfungsi dengan normal seperti sedia kala? Apalah artinya menyambung tulang patah apabila fungsinya tidak kembali normal? Seperti yang terdapat dalam Textbook Apley’s System of Orthopaedics and Fracture.. Treat the Patient, not the fracture..

Advertisements

If you’re not cheating, you’re not trying

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Artikel dengan judul “If you’re not cheating, you’re not trying” menjadi salah satu top story AAOS di bulan Juni 2008. Artikel ini menceritakan mengenai fenomena penggunaan PEDs atau performance-enhancing drugs di kalangan atlit. Apakah sebenarnya PEDs itu? Anda pasti mengetahui Viagra, yang sebenarnya merupakan salah satu PEDs, namun bukan itu yang akan kita bicarakan disini. Major League Baseball’s drug prevention and treatment program mendata berbagai jenis bahan aktif yang digunakan sebagai PEDs, yaitu:
• Lebih dari 50 tipe anabolic androgenic steroids, termasuk androstanediol, stanozol, dan testosterone serta derivatifnya
• Lebih dari 30 tipe stimulan, termasuk amphetamine dan analognya, ephedrine dan bahan lain yang terkait
• human growth hormone (HGH)
• insulin-like growth factors
• erythropoietin dan senyawa terkait
• setidaknya 2 lusin diuretik dan masking agents seperti epitestosterone, probenecid, dan plasma expanders
• berbagai agen anabolik dan modulator hormon seperti mechano growth factors, estrogen modulators, dan gonadotrophins
Continue reading

Is drug testing the answer?

Interesting Article from AAOS

By Michael F. Schafer, MD, and Mary Ann Porucznik

With the Beijing Olympics soon to begin, the issue of performance-enhancing drugs (PEDs) is center stage. According to the International Olympic Committee, 4,500 drug tests will be conducted during the games—more than in any previous Olympics. That many tests may be necessary to ensure that the playing field isn’t artificially raised by athletes who use erythropoietin (EPO), human growth hormone (HGH), or other types of PEDs.

To see just how effective drug testing is in identifying users and in deterring PED use, AAOS Now contributing editor Michael F. Schafer, MD, and managing editor Mary Ann Porucznik talked with Gary Green, MD, a consultant to Major League Baseball (MLB) on anabolic steroids and performance-enhancing drugs, and to MLB’s Elliot Pellman, MD, medical advisor for both MLB and the National Football League.

Continue reading

Return to Sport After Joint Replacement

Interesting Article from AAOS

V. Wylde, BSc, Research Assistant1; A. Blom, MD, FRCS, PhD, Consultant Orthopaedic Surgeon1; P. Dieppe, MD, FRCP, FFPH, Honorary Professor of Musculoskeletal Sciences2; S. Hewlett, RN, MA, PhD, Professor of Rheumatology and Nursing3; and I. Learmonth, FRCS, FRCS(Ed), FCS(SA)Orth, Professor of Orthopaedic Surgery1

1 University of Bristol, Bristol Implant Research Centre, Avon, Orthopaedic Centre Southmead Hospital, Westbury-on-Trym, Bristol BS10 5NB, UK.
2 Nuffield Department of Orthopaedic Surgery University of Oxford, Nuffield Orthopaedic Centre, Windmill Road, Headington, Oxford OX3 7LD, UK.
3 University of the West of England, Academic Rheumatology Unit Bristol Royal Infirmary, Marlborough Street, Bristol, BS2 8HW, UK.

Correspondence should be sent to Miss V. Wylde; e-mail: V.Wylde@bristol.ac.uk

Our aim was to determine the pre-operative sporting profiles of patients undergoing primary joint replacement and to establish if they were able to return to sport after surgery. A postal survey was completed by 2085 patients between one and three years after operation. They had undergone one of five operations, namely total hip replacement, hip resurfacing, total knee replacement, unicompartmental knee replacement or patellar resurfacing. In the three years before operation 726 (34.8%) patients were participating in sport, the most common being swimming, walking and golf. A total of 446 (61.4%) had returned to their sporting activities by one to three years after operation and 192 (26.4%) were unable to do so because of their joint replacement, with the most common reason being pain. The largest decline was in high-impact sports including badminton, tennis and dancing. After controlling for the influence of age and gender, there was no significant difference in the rate of return to sport according to the type of operation.

Link: http://www.jbjs.org.uk/cgi/content/abstract/90-B/7/920