Archive for June, 2008

Malpraktik: Sejauh Mana Kita Sebagai Seorang Dokter Memahaminya?

Ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran pre klinik tahun 2004, saya ingat betapa saat itu kasus malpraktik menjadi booming. Seingat saya semuanya diawali oleh kasus yang menimpa Nyonya Agian Isna Auli yang mengalami kelumpuhan setelah menjalani operasi Caesar. Kasus ini menjadi perhatian utama di seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik, bahkan liputan 6 SCTV pun menjadikannya topik minggu ini. Setelah kasus tersebut, sederetan kasus lain bermunculan, dan media massa nasional maupun lokal menjadi latah untuk menjadikannya top story.
Masalahnya, seringkali kasus-kasus yang diberitakan tidak memenuhi prinsip covering both sides sesuai prinsip jurnalistik. Judul dan isi berita cenderung menyudutkan dokter sebagai tersangka. Seharusnya kasus-kasus yang belum menjalani investigasi tidak pantas disebut sebagai kasus malpraktik, media massa harus menyertakan kata DUGAAN, namun sayangnya hal ini tidak diperhatikan. Kasus seperti alergi obat, misalnya Steven Johnson Syndrome, yang seharusnya tidak dapat dikategorikan malpraktik , oleh media langsung divonis sebagai kasus malpraktik. Menyedihkan sekali, bahkan stasiun tv nasional pun seringkali melakukan hal ini. Efek dari maraknya pemberitaan malpraktik ini pun panjang, ikut memicu lahirnya UU Praktik Kedokteran dan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia untuk dokter yang baru lulus.
Hingga kini, masih banyak juga sebenarnya kasus-kasus dugaan malpraktik yang menjadi topik di media massa, namun sayangnya kita sebagai dokter jarang sekali yang benar-benar memahami apakah malpraktik itu. Sekarang, saya akan mencoba berbagi mengenai definisi dan hal-hal lain yang terkait dengan malpraktik.
Continue reading

Advertisements

Patah Tulang Bagian 2: Peran Orthopaedia

Seperti yang telah saya tulis pada bagian pertama, sebagian besar pengobatan alternatif patah tulang mendasarkan cara pengobatannya pada pengalaman, trial and error, ditambah dengan sedikit pengetahuan akan proses penyembuhan tulang yang memang secara alami memiliki kemampuan untuk menyambung/sembuh. Memang ada beberapa dukun patah tulang/pengobatan alternatif yang mendapatkan pelatihan khusus untuk menangani patah tulang yang ringan, namun jumlahnya sangat sedikit. Sangat disayangkan masih sedikit dukun patah tulang yang mendaftarkan praktiknya ke dinas kesehatan setempat, padahal hal ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomer 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional. Seharusnya dengan kewajiban untuk mendaftar tersebut, dinas kesehatan dapat turut serta melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap dukun patah tulang sehingga mereka dapat melakukan praktik dengan baik, melalui suatu pelatihan yang memadai bukan berdasar trial and error.

Continue reading

Patah Tulang Bagian 1: Pengobatan Alternatif, Dapatkah Dipertanggungjawabkan?

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Pengobatan alternatif semakin menjamur di Indonesia. Coba saja lihat surat kabar nasional maupun lokal, pasti banyak pengobatan alternatif yang memasang iklan. Belum lagi di media televisi, banyak pula pengobatan alternatif yang memiliki “show” sendiri.
Salah satu pengobatan alternatif yang menjadi trend adalah pengobatan alternatif untuk patah tulang. Banyak dukun patah tulang yang membuka praktek tanpa kita ketahui kompetensinya. Meskipun memang ada beberapa tempat pengobatan alternatif yang dukun patah tulangnya telah mendapat pelatihan dan memang kompeten untuk menangani patah tulang ringan. Banyak sekali laporan kasus yang menyebutkan kecacatan, rasa nyeri kronik, infeksi bahkan kematian setelah berobat ke pengobatan alternatif. Parahnya media massa nasional dan lokal (televisi, radio, surat kabar) yang seharusnya menjadi bagian dalam edukasi dan informasi masyarakat luas justru turut “berperan” dalam “proses pembodohan massa”. Dokter Rahyussalim, seorang ahli bedah orthopaedi dan staf bagian Orthopaedi dan Traumatologi FKUI-RSCM, dalam blognya (http://rahyussalim.multiply.com) membuat suatu penelitian yang hasilnya cukup mengejutkan. Berikut adalah kutipan dari blog beliau:

330 pasien yang berobat ke polikilinik Ortopedi RS pemerintah di 9 kota di Indonesia antara lain Banda Aceh, Medan, palembang, Jakarta, Karawang, Tangerang, Klaten, Malang, dan Pontianak. Pasien ini saya kumpulkan sejak tahun Juni 2005 sd Juni 2007. Dari seluruh pasien dengan kisaran usia antara 19 tahun sd 55 tahun dan kesemuanya laki-laki dan mendapatkan pelayanan oleh dukun patah dan sejenisnya sebelum datang ke poliklinik ortopedi. Dari semua pasien yang telah dinyatakan sembuh oleh dukun dan penderita ternyata semua penderita masih memiliki keluhan yang sangat bervariasi mulai dari nyeri, jalan pincang, anggota badan bengkok, gerakan sendi yang tidak optimal dan terjadi pemendekan ruas tulang yang signifikan. Apa bila penderita ini datang ke poliklinik orthopedi dan kemudian mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan pelayanan orthopedi yang dicapai oleh orthopedi Indonesia saat ini maka saya optimis mengatakan bahwa 95% gejala sisa ini dapat diatasi dan seharusnya tidak terjadi.Sebanyak 5% gejala sisa dapat saja terjadi karena faktor lain yang tidak dapat diduga sebelumnya.
rahyussalim.multiply.com)
Salah satu korban dukun patah tulang yang mengalami lumpuh pada tangan kanannya (sumber: rahyussalim.multiply.com)
Continue reading

Who is “The Father of World’s Orthopaedy”? The Controversy of Nicholas Andry

By: Rudy Dewantara MD

It has been known that Nicholas Andry was the first to introduce the word ORTHOPAEDIA in 1741, in his book Orthopaedia, or the Art of Preventing and Correcting Deformities in Children.

Nicholas Andry used the terminology which derived from orthos (free from deformity) and pais (child). He stated that most deformities in adults have their origin in childhood. The book also contained a symbol of a crooked young tree (refered to a deformed young child) which is able to grow straight by applying appropriate forces. The symbol, also known as “Tree of Andry” then become the international symbol of orthopaedic surgery.

Tree of Andry

However, his contribution on the word ORTHOPAEDIA and the international symbol of orthopaedic surgeon wouldn’t sufficient to make him The Father of World’s Orthopaedy. There were a lot of controversies rised on who is the real Father of World’s Orthopaedy. In my humble opinion, based on world’s orthopaedy history, i would regard JEAN-ANDRE VENEL (1740-1791) as the one who deserves the title for he was the first to build an orthopaedic institution in Orbe, Canton Waadt. The institution was the first orthopaedic hospital in the world which dealt in particular with therapy of deformities in children. All methods were recorded by Venel, and the hospital became the role model for others in Europe.

Continue reading

Sejarah Orthopaedi Dunia

ANCIENT ORTHOPAEDICS
PRIMITIVE MAN

Although we have no written historical accounts, primitive man provides us his fossils. These show that the same pathology affecting bone existed in primitive times, hence an environmental cause for many of our common ailments seems unlikely. Evidence of fractured bones has been found, in some of which union has occurred in very fair alignment. This is interesting to note, as it gives us an ethical manner in which we can see the effects of no treatment at all, i.e. applying rest by instinct and early motion. It is inevitable that, at some stage, primitive man created a very crude splint, and that from that stage on, its advantages were recognised. Primitive man was probably also the first to perform crude amputations of limbs and fingers, and to trephine the skull.

ANCIENT EGYPT

Mummified bodies, wall paintings and hieroglyphics, have shown us that the people of the Egyptian age suffered from the same problems that we suffer today. They also show us some of the orthopaedic practices of that time. Splints have been found on mummies and they were made of bamboo, reeds, wood or bark, padded with linen. There is also evidence of the use of crutches, with the earliest known record of the use of a crutch coming from a carving made in 2830 BC on the entrance of a portal on Hirkouf’s tomb

Continue reading

Pentingnya Mengetahui Sejarah Orthopaedi

Oleh: dr. Rudy Dewantara
Ketika kita ingin mempelajari suatu bidang, sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari asal usul atau sejarah bidang tersebut. Saat ini kita hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, namun sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana teknologi tersebut berkembang.  Argumen untuk hal ini terdapat dalam Bagian pertama Textbook of Disorders and Injuries of the Musculosceletal System dari Robert Bruce Salter:

“Not to know what happened before one was born is to remain a child”

Sejarah suatu ilmu pengetahuan , dalam hal ini orthopaedi, sangat penting bukan hanya karena menarik untuk dipelajari dan memberikan inspirasi namun juga akan membantu kita dalam menempatkan ilmu pengetahuan pada masa sekarang dalam suatu perspektif serta menstimulasi pemikiran-pemikiran awal sehingga dapat menghasilkan kemajuan yang lebih berarti di masa yang akan datang. Dan tentu saja dengan belajar dari sejarah, kita dapat menghindari kesalahan-kesalahan masa lalu.

Sejarah orthopaedi akan saya tulis dalam 2 bagian, yaitu sejarah orthopaedi di Indonesia dan sejarah orthopaedi dunia.

Salam,

dr. Rudy Dewantara
Peminat Orthopaedy – Sports Medicine
dr. Rudy Dewantara Limanto

Sejarah Orthopaedi di Indonesia

Pendidikan Ilmu Bedah Orthopaedi di Indonesia
Sebelum ada pendidikan resmi spesialis Bedah Orthopaedi, untuk mendapatkan keahlian ilmu bedah ini, seorang staf dosen ahli bedah dari bagian dikirim untuk tugas belajar ke luar negeri, khusus dalam bedah orthopaedi. FKUI mengirim dr. Soebiakto W ke Boston USA, dr Nagar Rasjid ke London-UK, dr Soelarto Reksoprodjo ke Paris-Perancis. Dari RSPAD Dr. Soejoto dikirim ke Walter Reed USA dan banyak staf RSPAD dikirim ke Kobe Jepang (dr Syamsul Ma’arif, dr Misban, dr Budiarso Sarwono, dr PT Simatupang dan dr Hara Marpaung).
Prof. Dr. R. Soeharso sebagai pendiri Pusat Rehabilitasi Surakarta, yang mendapat bantuan dari Ankatan Darat (Jenderal Gatot Soebroto) dan QHO beserta spesialis bedah orthopaedi dan fisioterapi dari berbagai Negara, beliau mengembangkan ilmu beah Orthopaedi dari segi rehabilitasi. Banyak cacat veteran korban perang merebut kemerdekaan Indonesia, yang memerlukan rehabilitasi fisik seperti pemberian kaki-tangan palsu (ortosis). Bersama Bapak Suroto, seorang teknisi, beliau mendirikan “bengkel kaki-tangan palsu”. Kemudian bengkel ini dikembangkan menjadi Pusat Rehabilitasi Solo yang dilengkapi dengan sarana pendidikan untuk paramedic rehabilitasi seperti sekolah perawat fisioterapi, perawat rehabilitasi (oleh Ibu Suroto), dan ortosis prosthesis (oleh Bapak Suroto). Selain Pusat Rehabilitasi, juga didirikan Rumah Sakit Lembaga Orhopaedi dan Prosthesis (LOP).

Continue reading