Archive for September, 2008

Sekilas Mengenai EverythingAboutOrtho.wordpress.com [Data dan Statistik]

Setelah kurang lebih 3 bulan saya menulis di blog ini, saya cukup terkejut juga mengetahui bahwa banyak orang yang berminat membaca blog saya. Dalam kurun waktu 3 bulan, sudah lebih dari 2000 orang yang mengunjungi blog saya. Sangat menggembirakan melihat respon orang-orang yang sangat positif ini. Orang-orang yang mengunjungi blog saya berasal dari seluruh pelosok Indonesia, diantaranya Malang, Surabaya, Jakarta, Palembang, Medan, dll. Bahkan beberapa dari luar negeri.

Semakin banyak yang membaca blog ini, semakin besar pula kemungkinan blog ini muncul di google.  Berikut beberapa kata kunci yang digunakan untuk search di google, dan blog EverythingAboutOrtho.wordpress.com selalu muncul di halaman pertama.

Continue reading

Berpikirlah Seribu Kali Sebelum ke Dukun Patah Tulang

Di awal saya menulis blog ini, salah satu tujuan saya adalah untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan informasi yang tepat kepada masyarakat awam, agar berhati-hati dalam berobat untuk kasus patah tulang. Pada artikel saya yang berjudul Patah Tulang bagian 1 dan 2, sudah saya jelaskan apa saja yang sebenarnya terjadi pada tubuh kita ketika terjadi patah tulang, dan bagaimana sebenarnya proses penyembuhan patah tulang. Dan yang paling penting lagi adalah apa sih sebenarnya tujuan utama pengobatan patah tulang. Untuk lebih jelasnya silakan anda baca kembali artikel saya di awal.

Berikut adalah tiga artikel yang saya dapatkan dari blog dr. Rahyussalim SpoT [http://rahyussalim.multiply.com], seorang dokter bedah tulang di Jakarta. Tiga artikel ini menunjukkan kembali kepada kita, bahwa mengobati tulang yang patah bukan hanya sekedar menyambung tulang, namun juga [salah satunya] mementingkan pengembalian fungsi tulang (dan sendi) secara normal, sehingga pasien dapat menggunakan bagian tubuh yang patah tersebut seperti semula. Semoga setelah membaca ketiga contoh kasus dibawah ini, kita semua menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan untuk berobat, khususnya dalam kasus patah tulang.

ARTIKEL 1 Sembuh oleh dukun patah tulang???

Awalnya orang tua penderita hanya iseng ingin memeriksakan anaknya ke saya untuk mengecek apakah anaknya benar-benar sembuh seperti yang dikatakan oleh ahli patah tulang terkenal di daerah jabodetabek ini. Sayapun tidak keberatan. Pada pemeriksaan fisik saya mendapatkan masih adanya bengkak di daerah lutut kanan bagian atas dan sedikit nyeri. Terdapat pergerseran lutut kearah depan. Pada foto roentgen tampak terjadi patah tulang dan pergeseran kearah depan pada bagian lempeng epifisis bagian ujung tulang paha. Pada patahan ini belum terjadi pertumbuhan tulang baru (kalus) secara sempurna.
Beruntung kejadian patah tulang ini tidak disertai oleh luka yang tidak menimbulkan infeksi. Namun mengingat terkenanya lempeng epifisis tulang anak ini saya kira ada potensi gangguan pertumbuhan tulang paha kanan dibandingkan dengan tulang paha kiri. Bila ini terjadi maka di masa mendatang ada peluang terjadi paha kanan lebih pendek dari paha kiri. Ada pula kemungkinan lutut kanan membengkok bisa kedalam membentuk huruf O karena lempeng epifisis yang terkena lebih dominan di sebelah dalam . Saat ini memang penderita tidak mengeluhkan proses yang sedang terjadi pada lututnya. Namun dengan perjalanan waktu proses degenerasi akibat biomekanik lutut yang tidak normal akan mengancam timbulnya osteoartritis dini.
Apa yang bisa kita lakukan pada penderita ini?
Continue reading

Teknologi Bedah Tulang Adopsi Kemampuan GPS

Jakarta – Pemanfaatan teknologi komputer sudah merambah ke bidang kesehatan, salah satunya untuk pembedahan tulang. Dalam perkembangan pemanfaatan teknologi terbaru, dokter yang melakukan operasi kini dipermudah dengan suatu sistem yang berfungsi sebagai pemberi arah layaknya GPS (Global Positioning System).

Teknologi ini disebut Computer Assisted Surgery (CAS). Yang merupakan suatu prosedur penggunaan sistem komputer dalam operasi guna memberikan navigasi terhadap ahli bedah.

Penggunaan CAS saat ini masih lebih ditujukan untuk bedah tulang (Orthopaedic), sehingga dalam operasi alat ini membantu ahli bedah dengan penciptaan dan tampilan gambar (navigasi) yang menunjukkan komponen-komponen antara tulang dan ligamen dari persendian yang akan atau sedang diganti.

Continue reading

Sekilas Mengenai Osteogenesis Imperfecta

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Anda pernah menyaksikan film “unbreakable”, film yang dibintangi Bruce Willis dan Samuel L. Jackson? Alkisah, diceritakan bahwa Elijah Price (Samuel L. Jackson) adalah seorang yang lahir dengan tulang yang sangat rapuh. Ketika berusia 5 tahun, ia sudah mengalami patah tulang puluhan kali akibat suatu kelainan congenital/bawaan sejak lahir, yang disebut Osteogenesis Imperfecta [OI].

OI, disebut juga “brittle bones” atau tulang rapuh merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan kelemahan dan kerapuhan tulang yang menyeluruh pada tubuh, yang berakibat pada terjadinya patah tulang patologis. Kelainannya terletak pada perubahan struktur dan fungsi kolagen tipe 1, yang merupakan kolagen utama pada tulang, dentin, sclera, dan ligamen. Akibatnya, individu yang terkena akan memiliki tulang yang rapuh, yang bisa disertai dengan gangguan pembentukan dentin (bagian dari gigi), sclera yang berwarna biru, dan ligamen yang sangat lentur. Ada beberapa tipe OI, dari yang terberat yang disertai dengan patah tulang semenjak lahir, hingga yang paling ringan dimana patah tulang mulai terjadi saat individu mulai berjalan.

Hingga saat ini belum ada terapi medis yang tersedia untuk mengobati penyebab dari kelainan ini. Upaya pencegahan patah tulang juga cukup sulit untuk dilakukan. Individu yang terkena dan orang tuanya harus diberikan pengertian yang baik dan benar mengenai penyakit ini. Berikut adalah contoh cerita dari forum milis kompas online mengenai seseorang yang menderita OI, namun masih sangat beruntung dalam “kehidupan cintanya”.

Sejak lahir Ms. Yu Son A mempunyai tulang yg tipis seperti kulit telur, sehingga dengan bersin saja, bisa mengakibatkan tulang patah. Dengan mudah patah dan tulang muda (lembut), Tingginya cuman bisa mencapai 120 cm, tapi dia tetap sehat seperti org biasa. Waktu ditanya: Sulitkah waktu berjalan dengan tongkat waktu bekerja, jawabnya: dengan adanya 4 kaki, saya bisa bekerja lebih cepat. Dengan jawaban ini, org memanggil dia “Thumbelina” karena dia kecil tapi bisa berdiri sendiri. Kekasihnya adalah seorang lelaki muda, cakep, tinggi 175 cm.

Continue reading

Osteopenia of Prematurity

Ditulis oleh:

dr. Rudy Dewantara dan dr. Yuliana

Bayi-bayi prematur memiliki risiko tinggi untuk terjadinya penurunan bone mineral content (BMC) yang berakibat terjadinya bone disease, yang secara bervariasi disebut sebagai metabolic bone disease of prematurity, neonatal rickets atau osteopenia of prematurity. Osteopenia of prematurity (OOP) sendiri seringkali sulit dan terlambat untuk dideteksi karena pada awal-awal OOP ini tidak menunjukkan gejala klinis. Padahal menurut Jurnal of Perinatology tahun 1984, OOP merupakan preventable disease sebelum terjadinya manifestasi atau komplikasi yang lebih lanjut, misalnya adanya suatu fraktur yang tidak diketahui penyebabnya.

Osteopenia diartikan sebagai penurunan densitas tulang yang akhirnya mengakibatkan penurunan kekuatan tulang. Osteopenia of prematurity (OOP) umumnya didapatkan pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah. Kondisi ini menempatkan bayi-bayi prematur pada risiko tinggi untuk terjadinya fraktur. Menurut Bridget K. Cross dalam jurnalnya yang berjudul Osteopenia Of Prematurity: Prevention and Treatment, 30% bayi-bayi dengan berat lahir kurang dari 1250 gram menderita OOP. Bahkan sumber lain menyebutkan bahwa bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan usia kehamilan kurang dari 32 minggu, insiden osteopenia terjadi hampir tanpa kecuali. Hal ini tidak mengejutkan karena 80% mineralisasi tulang janin terjadi pada trimester ketiga dari kehamilan.


Pada trimester ketiga dari kehamilan, sejumlah besar kalsium dan fosfor ditransfer secara aktif dari ibu ke janin, dimana 99% kalsium dan 85% fosfor berada dalam tulang sehingga terjadi pertumbuhan tulang bayi. Selain itu, aktivitas janin juga meningkat selama waktu ini, dimana aktivitas ini penting untuk perkembangan tulang. Hal sebaliknya didapatkan pada bayi-bayi prematur, bayi prematur tidak mendapatkan kalsium dan fosfor dalam jumlah yang diperlukan untuk membentuk tulang yang kuat. Adanya pembatasan aktivitas juga didapatkan pada bayi-bayi prematur yang berakibat meningkatnya bone resorption, penurunan bone mass, dan peningkatan hilangnya kalsium urin. Faktor-faktor lain yang juga meningkatkan risiko terjadinya OOP adalah kadar vitamin D yang rendah atau ketidakmampuan untuk melakukan metabolisme vitamin D yang baik, yang menyebabkan terhambatnya absorbsi kalsium dari usus dan ginjal, penggunaan diuretik dan steroid jangka panjang, nutrisi parenteral total yang lama, unsupplemented human milk, penggunaan formula kedelai dan elemental, bronchopulmonary dysplasia, serta penggunaan metilxanthin dan aminoglikosida yang meningkatkan ekskresi kalsium urin.
Gambaran klinis dari osteopenia biasanya asimptomatis dan baru muncul pada usia bayi enam sampai dua belas minggu, berupa craniotabes, frontal bossing, penebalan dari pergelangan tangan dan kaki, rachitic rosary (pembesaran epiphysial plate pada costochondral junction), pertumbuhan linear terhambat, hipoplasi enamel, serta adanya gangguan respirasi karena proses mineralisasi yang jelek pada costae dan kelemahan otot akibat hypophospatemic myopathy.

Berikut adalah perubahan khas yang terjadi pada distal radius dan ulna, dimana terjadi pembesaran epiphysial plate

Continue reading

Contoh Kasus Malpraktik di Bidang Orthopaedi: Bagian II


Contoh kasus ini saya dapatkan dari blog dr. Yusuf Alam Romadhon, seorang dokter umum di Solo, Jawa Tengah.

Gas Medik Yang Tertukar

Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi. Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anestesi terlebih dahulu. Pembiusan dilakukan oleh dokter anestesi, sedangkan operasinya dipimpin oleh dokter ahli bedah tulang (ortopedi).

Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernapasan hingga tidak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus menerus di perawatan intnsif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator). Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnya.

Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan pada pemasangan gas anestesi (N2O) yang dipasang pada mesin anestesi. Harusnya gas N2O, ternyata yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak. Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat pernapasan (respiratory distress) sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien menjadi tidak sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan ”sederhana”, namun berakibat fatal.

Continue reading

Contoh Kasus Malpraktik di Bidang Orthopaedi: Bagian 1

Contoh kasus ini saya dapatkan dari blog dr. Yusuf Alam Romadhon, seorang dokter umum di Solo, Jawa Tengah.

Kasa Tertinggal Berakibat Osteomyelitis

Mas Parjo datang ke Rumah Sakit Remen Waras karena fraktur di tulang femur. Dokter Ndang Sun Tiken SpB menangani kasus ini adalah dokter bedah satu-satunya di kota Sarwo Saras. Parjo dijadwalkan operasi, dengan melalui prosedur-prosedur rutin rumah sakit, informed concent telah ditanda tangani oleh Parjo sendiri. Parjo sangat sadar dengan apa yang ia tanda tangani. Sebelum mengoperasi Parjo pada jam 10.00, dr. Ndang Sun Tiken sudah melakukan tiga operasi elektif satu operasi cito. Malam harinya dr. Ndang Sun Tiken mengoperasi dua operasi cito. Operasi reposisi Parjo telah berhasil dengan baik, dari foto rontgen pasca operasi, pen telah menancap pada tempat yang benar, kelurusan tulang telah sesuai dengan yang diharapkan. Parjo setelah recovery dan perawatan di bangsal yang memadai akhirnya bisa dipulangkan. Belum ada seminggu, di tempat luka operasi, setiap saat selalu keluar nanah, hingga membuat pembalut luka selalu diganti.

Parjo bermaksud kontrol lagi ke Rumah Sakit Remen Waras, tetapi ia mendapati antrian begitu panjang, dan sudah menunggu mulai dari jam 8.00 hingga 11.00 dokter Ndang Sun Tiken tidak kunjung datang. Berkali-kali ia bertanya kepada perawat poliklinik, selalu saja jawabannya masih melakukan operasi. Karena tidak nyaman dengan apa yang dialaminya, serta tidak enak dengan pandangan-pandangan orang di sekitar yang tampaknya jijik melihat kondisi pahanya. Parjo dan keluarga memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit Arto Wedi yang letaknya ratusan kilometer dari rumah tinggalnya.

Masuk rumah sakit arto wedi, dengan biaya yang lebih tinggi, Parjo langsung diperiksa oleh dokter Hangabehi SpBO. FICS. Ahli ortopedi yang sudah terkenal hingga jauh di luar daerah. Oleh dokter Hangabehi, Parjo segera dilakukan prosedur rutin, roentgen ulang dan segera dijadwalkan operasi. Kembali dilakukan prosedur rutin, termasuk informed concent telah ditanda tangani dan Parjo sadar betul dengan apa yang dilakukannya. Secara umum kondisi Parjo menjelang operasi baik. Hanya dari luka operasi sebelumnya saja yang terus menerus mengalir nanah.
Continue reading