If you’re not cheating, you’re not trying

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Artikel dengan judul “If you’re not cheating, you’re not trying” menjadi salah satu top story AAOS di bulan Juni 2008. Artikel ini menceritakan mengenai fenomena penggunaan PEDs atau performance-enhancing drugs di kalangan atlit. Apakah sebenarnya PEDs itu? Anda pasti mengetahui Viagra, yang sebenarnya merupakan salah satu PEDs, namun bukan itu yang akan kita bicarakan disini. Major League Baseball’s drug prevention and treatment program mendata berbagai jenis bahan aktif yang digunakan sebagai PEDs, yaitu:
• Lebih dari 50 tipe anabolic androgenic steroids, termasuk androstanediol, stanozol, dan testosterone serta derivatifnya
• Lebih dari 30 tipe stimulan, termasuk amphetamine dan analognya, ephedrine dan bahan lain yang terkait
• human growth hormone (HGH)
• insulin-like growth factors
• erythropoietin dan senyawa terkait
• setidaknya 2 lusin diuretik dan masking agents seperti epitestosterone, probenecid, dan plasma expanders
• berbagai agen anabolik dan modulator hormon seperti mechano growth factors, estrogen modulators, dan gonadotrophins

PEDs di Amerika sudah menjadi lifestyle dan semakin banyak digunakan oleh semua kalangan terutama oleh atlit. Alasan utamanya adalah karena mereka ingin selalu berada pada puncak performa mereka. PEDs memang membantu atlit dalam memaksimalkan performa mereka di lapangan, dan membuat mereka terlihat lebih bugar (berotot). Karena semakin banyaknya atlit yang menggunakan PEDs untuk alasan ini, ada semacam satir yang mengatakan “if you’re not cheating, you’re not trying”.

Seberapa luas penggunaan PEDs?

Saat ini, obat yang paling sering digunakan untuk meningkatkan performa muskuloskeletal adalah testosterone, androstenedione, anabolic steroids, dan human growth hormone. Pada tahun 2004, FDA (Food and Drug Administration) telah melarang peredaran suplemen diet/makanan yang mengandung ephedrine, yang saat itu banyak digunakan atlit untuk menurunkan berat badan, mengurangi keletihan serta meningkatkan kewaspadaan mental. Namun, suplemen tersebut segera digantikan oleh obat yang yang digunakan untuk terapi ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder)/
Tahun lalu George Mitchell mempublikasikan penelitiannya mengenai penggunaan steroid dan PEDs lain diantara pemain MLB/major leaque baseball. Dan ternyata lebih dari 80 pemain telah menggunakannya. Sederet atlit kenamaan lain juga menggunakannya, misalnya pemegang medali emas olimpiade Marion Jones, Barry Bonds, Jason Giambi, dan Gary Sheffield. Pemakaian PEDs tidak hanya didominasi bidang olahraga dan profesi tertentu, namun juga digunakan oleh aktor/artis, ilmuwan, anggota militer bahkan orang awam.

PEDs seringkali diresepkan oleh dokter untuk kondisi yang tidak berhubungan dengan olahraga/atlit. Ritalin, obat yang umumnya digunakan untuk terapi ADHS, sering diberikan untuk atlit untuk meningkatkan konsentrasi dan membantu atlit mengatasi jet lag.

PEDs dan Atlit Muda
Suatu acara TV baru-baru ini mengeksplor dampak PEDs terhadap atlit berusia muda. Atlit-atlit muda dari bidang renang, angkat besi, serta lari yang diberikan anabolic steroids dan vitamin sebagai bagian regimen latihan mereka, berhasil menjadi pemegang rekor dunia dan peraih medali emas olimpiade. Namun, pada di usia lanjut, mereka menghadapi peningkatan resiko kanker, identitas gender serta masalah muskulskeletal yang serius.
Penggunaan steroid diantara atlit remaja telah menurun. Menurut Survey National Youth Risk Behavior tahun 2005, 4% siswa SMA diketahui memakai steroid ilegal, angka ini turun dari 6.1% tahun 2003. Survey lain berusaha untuk mengetahui sampai seberapa jauh remaja berusaha untuk mencapai impian mereka, hasilnya:
• 6% siswa smp laki-laki menggunakan steroid. 80% diantara mereka yang menggunakan steroid percaya bahwa obat tersebut dapat membantu mereka untuk lebih berprestasi di atletik
• 65% pengguna steroid bersedia mengkonsumsi pil dan bahan lain termasuk suplemen makanan, jika bahan-bahan tersebut memang menjamin mereka untuk lebih berprestasi dalam atletik. Mereka bersedia melakukannya bahkan jika terdapat resiko yang membahayakan kesehatan mereka.
• 57% pengguna steroid mengatakan bahwa mereka akan tetap menggunakannya bahkan jika bahan-bahan tersebut dapat memperpendek usia mereka
• sekitar 6 dari 10 pengguna percaya bahwa atlit profesional memiliki hak untuk menggunakan steroid dan menurut mereka, penggunaan anabolic steroids untuk tujuan atletik adalah legal.

Bagaimana dengan penggunaan PEDs di Indonesia?
Saya belum menemukan penelitian/survey mengenai PEDs di Indonesia. Namun, di gym tempat saya berlatih, serta diantara teman-teman atlit basket di kota saya, penggunaan suplemen makanan terutama yang mengandung protein tinggi, menjadi suatu trend. Sebagian besar diantara mereka menggunakannya untuk “membentuk otot” agar mereka terlihat lebih bugar, sebagian lagi karena merasa bahwa mereka dapat meningkatkan performa mereka saat bertanding. Mungkin yang cukup ironis adalah masih beredarnya suplemen diet yang mengandung ephedrine di Indonesia, padahal FDA sudah melarangnya tahun 2004.
Untuk artikel lengkap dari AAOS dan data-data lain terkait penggunaan PEDs di Amerika, silakan klik link di bawah ini. Terima kasih.

http://www.aaos.org/news/aaosnow/jun08/cover1.asp

dr. Rudy Dewantara L
Peminat Orthopaedy – Sports Medicine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: