Archive for October, 2008

Rehabilitasi: Suatu “Beban” untuk Dokter Orthopaedi?

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Pendahuluan

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke UGD untuk kontrol, setelah satu bulan lalu ketiga jari di tangan kirinya terpotong oleh gergaji mesin. Sekarang, pasien sudah tidak mengeluhkan rasa sakit, namun ia masih menghadapi suatu masalah yang tidak kalah pentingnya. Pasien tersebut tidak hanya menghadapi rasa sakit yang parah, resiko infeksi maupun shok, namun juga masalah fungsi normal tangan kirinya. Seorang dokter orhopaedi, yang tidak hanya dibekali dengan ilmu dan skill, namun juga sikap kemanusiaan terhadap pasiennya [belas kasih, pemahaman, pengertian, empati, dan lainnya], juga harus menghadapi hal ini. Dokter orthopedi harus memikirkan bagaimana caranya agar pasien bisa kembali menggunakan tangan kirinya untuk fungsi sehari-hari.

Rehabilitasi

Filosofi untuk memperhatikan pasien secara total, serta terus menerus memberikan perhatian terhadap pasien bisa disebut dengan rehabilitasi. Tujuan utama rehabilitasi adalah mengatasi masalah pasien [baik masalah fisik, mental atau sosial], serta terus membantu pasien dalam proses pengobatan, kemudian melatih, mendidik dan memberikan dukungan agar pasien dapat menghadapi masalah kecacatan [yang mungkin tidak dapat lagi diperbaiki], sehingga kualitas hidupnya dapat meningat, menjadi tidak bergantung lagi pada orang lain. Rehabilitasi berarti “bertindak lebih jauh” untuk pasien, memberikan perhatian dan dukungan secara penuh. Dan hal ini berlaku untuk semua bidang kedokteran.

Continue reading

Rehabilitation: A “Burden” for Orthopaedic Surgeons?

By: Rudy Dewantara MD

Preface

A 30 year old man came to ER after having his second, third and fourth phalanx of the left hand chopped by a saw machine. He had to had his three fingers amputated, leaving only the proximal phalanx. And now a month after the surgery, while the pain has subsided, he still have to deal with a frustating problem related to the function of his left hand. It is obvious that the patient isn’t merely dealing with severe pain, risk of infection or even shock, due to his chopped hand [now that it has been overcome]. The most devastating problem for the patient is related to the effort of regaining the normal function of his left hand, which is definitely way more difficult to deal with. An orthopaedic surgeon, who’s not only provided with art and science but also a humanistic attitude towards patients [compassion, understanding, warmth, kindness, empathy, etc], will also have to cope with this, together with other specialist.

Rehabilitation

The philosophy of total care of the patients as well as continuing care for them refers to rehabilitation. The broad aim, or goal, of rehabilitation is to correct, insofar as is possible, the patient’s problem [whether it be physical, mental or social] and in addition to continue to help him or her by treatment, training, education and encouragement to cope with residual uncorrectable portion of the problem and his or her attitude toward it, in order that his or her life may be changed from one of dependency to one of independence, from one that is empty to one that is full. In a sense, rehabilitation is ‘going the second mile’ and often farther with patients, and it is applicable to the disabling problems of all fields of medicine and surgery. [Salter, 1999]


Continue reading

Peran Orthopaedi dalam Proses Pemulihan Pasca Stroke

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Baru-baru ini saya mendapat jurnal mengenai peran Orthopaedi pada pasien stroke, dan secara kebetulan AAOS dalam salah satu top issue nya di bulan Agustus juga membahas topik serupa, oleh karenanya saya ingin sedikit menulis mengenai hal ini. Bagi yang ingin mendapatkan full-text jurnalnya, silakan email saya di: rudy_dewantara_01@yahoo.com.

Stroke atau CVA [cerebrovascular accidents] seringkali menyebabkan kelainan yang sangat signifikan, termasuk kontraktur pada otot-otot ekstremitias dan deformitas/kelainan yang menyakitkan, sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari hari. Banyak pasien yang harus menanggung derita seumur hidup akibat kelumpuhan otot-otot tubuh, meskipun berbagai upaya rehabilitasi telah dilakukan. Press release AAOS di bulan Agustus menyatakan peran Orthopaedi dalam terapi stroke bertujuan untuk:

  1. Mengurangi rasa nyeri
  2. Memperbaiki rentang sendi/ROM
  3. Memperbaiki penampilan/estetika bagian tubuh yang mengalami deformitas

Dengan tercapainya tiga kondisi diatas, diharapkan pasien dapat kembali melakukan aktivitas sehari hari dengan mandiri, sehingga secara otomatis akan meningkatkan kualitas hidupnya.
Continue reading

Mem”bedong” Bayi dari Sudut Pandang Orthopaedi

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Mem”bedong” bayi atau membungkus bayi dengan kain setelah bayi lahir, sangat umum dipraktekkan di Indonesia. Sebenarnya, teknik membungkus bayi dengan kain setelah lahir dapat dilakukan, asal jangan terlalu ketat. Namun, masih banyak tenaga medis [dokter, bidan, dukun bayi] yang kurang memahami bahwa sebenarnya membungkus bayi terlalu ketat, sehingga memposisikan sendi panggul bayi dalam keadaan ekstensi dan adduksi [lurus dan arahnya mendekati garis tengah tubuh], sangat tidak dianjurkan. Mengapa? Berikut adalah penjelasannya dari sudut pandang ilmu Orthopaedi.
Continue reading

EverythingAboutOrtho.co.cc

Iseng-iseng pakai free domain. Lebih singkat dan lebih mudah diingat. EverythingAboutOrtho.wordpress.com juga masih bisa kok.

Salam,

dr. Rudy Dewantara

COX-2 Selective Inhibitor Juga Menghambat Penyembuhan Fraktur

Oleh: Rudy Dewantara MD [Jurnal Review]

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis article review berjudul The Effect of NSAIDS towards Ligament Healing dan satu artikel singkat berjudul The Adverse Effect of COX-2 Selective Inhibitor on Ligament Healing. Kedua artikel tersebut pada prinsipnya menunjukkan penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa COX-2 selective inhibitor ternyata menghambat penyembuhan ligamen. Baru-baru ini saya membaca jurnal terbaru dari AAOS yang berjudul Effects of a Cyclooxygenase 2 Inhibitor on Fracture Healing in a Rat Model. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek COX-2 inhibitor, celecoxib, terhadap penyembuhan tulang, atau lebih spesifik lagi terhadap kekuatan mekanik tulang serta jumlah callus yang terbentuk pada fraktur. Hipotesis pada penelitian ini adalah COX-2 inhibitor akan menurunkan kekuatan mekanis callus serta jumlah callus yang terbentuk. Dan ternyata hasil akhir penelitian memang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada subyek yang mendapat celecoxib dan kontrol, dalam hal kekuatan biomekanik callus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa enzyme COX-2 sangat penting untuk penyembuhan fraktur dan oleh karenanya, penggunaan celecoxib pada kasus fraktur harus benar-benar diperhatikan.

Untuk yang tertarik mendapatkan full-text nya silakan email saya di: rudy_dewantara_01@yahoo.com.

Pengumuman

Kepada pengunjung blog saya yang terhormat,

Apabila ingin meninggalkan komentar di setiap thread saya, ingin berkonsultasi masalah medis,  atau untuk yang request full text jurnal kedokteran, dimohon agar mengisi alamat email anda yang valid. Karena saya sering membalas langsung ke alamat pengunjung, sehingga pengunjung tidak perlu repot memeriksa blog ini setiap saat hanya untuk mengetahui apakah saya sudah merespon. Jangan kuatir, alamat email pengunjung tidak akan dipublikasikan ke umum.

EMail: rudy.dewantara@gmail.com

Sekali lagi, terima kasih banyak atas kunjungannya di blog saya.

Salam,

Rudy Dewantara L