Tahun 2008 awal saya membuat blog ini dengan tujuan ikut berperan dalam proses edukasi masyarakat mengenai trauma, cedera pada muskuloskeletal (otot, jaringan lunak, ligamen, tendon, tulang). Setelah beberapa bulan aktif menulis dan melihat banyak respon positif (dan negatif) saya semakin semangat membuat beberapa artikel baru. Sayang sekali, di akhir 2008 saya harus melanjutkan pendidikan dokter spesialis, sehingga saya benar2 tidak bisa lagi meluangkan waktu untuk menulis. Saya membutuhkan waktu yang tenang, dan benar2 dalam kondisi mood yang bagus untuk menulis, sehingga selama 3 tahun terakhir blog saya terbengkalai. Masih banyak komentar dan konsultasi yang masuk ke blog saya, ada juga yang melalui email hingga hari ini. Bahkan blog ini masih dikunjungi 200-300 orang perhari hingga hari ini. Terima kasih atas perhatiannya. Saya tidak bisa menjawab satu-satu karena terlalu banyaknya email dan konsultasi yang masuk, saya mohon maaf. Untuk komentar-komentar negatif yang masuk, mulai yang relatif “halus” seperti mempertanyakan bahwa saya dokter, atau masih “mengagungkan” pengobatan alternatif, hingga flamming, komentar yang sangat kasar yang menjurus menyerang pribadi, atau menghina ilmu Orthopaedi, semuanya saya terima. Bukan masalah buat saya, itu adalah suatu hal yang sangat wajar. Saya mengenal internet sejak tahun 1998. Saya bergabung dengan banyak forum diskusi. Dan di dunia maya, selalu saja ada flammer, orang-orang yang kurang berani menggunakan identitas pribadi/bahkan menggunakan identitas orang lain untuk tujuan-tujuan negatif. Hal seperti ini tidak bisa dihindari. Jadi untuk beberapa orang (atau mungkin hanya 1 orang?), yang terus menerus mengirim komentar negatif ke blog dan email saya, tolong bantu diri anda sendiri dengan menghentikan semua itu, karena saya sama sekali tidak terpancing untuk menanggapinya, karena saya berprinsip bahwa “Haters are your true fans“. Dan untuk menjaga agar blog ini tetap bersih, komentar yang masuk akan saya approve dulu.
Dengan sedikit ilmu yang sudah saya pelajari, saya akan berbagi dengan masyarakat, mengenai masalah-masalah kesehatan yang sering kita temui sehari-hari, bukan hanya patah tulang, tapi juga pengapuran tulang pengeroposan tulang, “rematik”, hingga kasus trauma yang sering terjadi.
Setelah 2 tahun lebih saya menjalani pendidikan spesialis Orthopaedi, saya melihat banyak masalah-masalah kesehatan terutama di bidang muskuloskeletal yang belum diketahui dengan benar/tepat oleh masyarakat. Banyak yang masih mempercayai asumsi2, mitos2 yang kurang benar. akibatnya masyarakat tidak mendapatkan pengetahuan dan pilihan pengobatan yang tepat/sesuai, dan seringkali hal ini berakhir dengan kecacatan/bahkan paling berat kematian. Selama 2 tahun terakhir, saya melihat terlalu banyak pasien yang harus kehilangan anggota tubuhnya karena salah mengambil keputusan untuk berobat ke sangkal putung. Pasien anak yang baru berumur 10 tahun, dengan patah tulang simple, yang seharusnya bisa diobati dengan gips selama 2-3 bulan, harus diamputasi kakinya hingga tulang paha karena dibawa ke sangkal putung. Dan ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi berulang terus menerus. Dua tahun lalu, ketika belum menjalani pendidikan spesialis, saya melihat ini adalah kesalahan sangkal putung/pengobatan alternatif, yang dengan seenaknya membuka “praktek” pengobatan dengan ilmu yang tidak jelas/coba2, dan berani menjanjikan kesembuhan 100%. Dan dengan seenaknya pengobatan alternatif membuka praktek, memberikan obat2 dengan efek samping/resiko yang masih belum jelas, melakukan tindakan2 yang tidak prosedural tanpa adanya sertifikat kompetensi atau pengakuran dari lembaga resmi. Sementara di sisi lain, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran harus menempuh pendidikan selama 6-7 tahun hanya untuk lulus dokter umum, kemudian masih harus ujian kompetensi nasional lagi untuk bisa praktek. Belum lagi harus sekolah selama 5-6 tahun untuk spesialisasi. Kenapa sekolah dokter harus sekian lama baru bisa diijinkan melakukan tindakan tertentu terhadap pasien? Sederhana saja jawabannya, karena pasien adalah manusia bukan benda mati. Setiap obat yang kita berikan, tindakan yang kita lakukan sekecil apapun itu, selalu memiliki dampak terhadap pasien. Dampak itu bisa berupa kesembuhan/perbaikan untuk pasien, atau mungkin kondisi pasien justru tetap atau bisa juga semakin memburuk, dan yang paling fatal adalah kematian. Untuk memberikan hasil yang terbaik pada pasien, kami harus benar2 mengetahui semua resiko itu dengan baik dan itu tidak bisa dicapai hanya dalam beberapa minggu/bulan. Lebih lanjut lagi, saya juga melihat masalah sistem kesehatan di Indonesia yang masih belum tertata dengan baik. Hal ini berakibat tingginya biaya berobat di Indonesia. Meskipun pemerintah sudah menyediakan JAMKESDA untuk membantu masyarakat miskin agar mendapatkan pengobatan gratis, pada kenyataanya di lapangan proses pengurusannya tidak mudah. Masih banyak masyarakat miskin yang tidak bisa mendapatkan haknya karena birokrasi yang rumit, dan banyak pula masyarakat tidak miskin yang bisa mendapatkannya karena punya koneksi tertentu. Dan satu realita yang menjadi perhatian adalah, meski masyarakat miskin sudah mendapatkan JAMKESDA, tapi bukan berarti kemudian mereka bisa berobat. Karena mereka juga membutuhkan biaya untuk transportasi dan lainnya. Sementara, pasien dengan tingkat ekonomi di “tengah2” antara masyarakat miskin dan menengah, juga yang paling banyak kesulitan untuk berobat, dan mereka tidak masuk kriteria yang layak mendapatkan JAMKESDA oleh pemerintah.
Di sisi lain, dulu saya berpendapat bahwa pasien yang memilih berobat ke alternatif adalah mereka yang tingkat pendidikannya rendah. Kemudian saya mengetahui bahwa ini tidak selalu benar. Banyak masyarakat dengan tingkat ekonomi lumayan memilih untuk berobat ke alternative karena mereka belum mendapatkan informasi yang benar mengenai penyakit yang mereka derita. Bukan berarti saya 100% anti pengobatan alternative ya. Saya hanya menentang praktik2 pengobatan alternative yang tidak jelas, yang asal membuat spanduk berisi janji2 kesembuhan dan testimoni2 pasien yang juga validitasnya dipertanyakan, dan menjual produk2 obat yang belum lulus uji klinis kemudian melakukan rasionalisasi sendiri bahwa obat2 yang mereka jual bukan bahan kimia tapi bahan alami dari tumbuh2an. Padahal semua obat dari tumbuhan pun mengandung senyawa kimia.
Saya percaya memang ada pilihan pasien untuk menjalani pengobatan alternatif, tapi untuk pengobatan alternatif yang memang ada dasar ilmunya/tidak berdasar coba2 seperti akupuntur. Dan terapis akupunturnya pun harus memiliki latar belakang pendidikan yang jelas, bukan hanya berdasarkan otodidak.
Dengan banyak hal diatas, saya menyadari saya tidak bisa hanya menyalahkan sangkal putung/pengobatan alternatif semata. Masalah ini terlalu kompleks. Dan hal paling kecil yang bisa saya lakukan untuk ikut berperan dalam proses edukasi ini adalah menulis artikel2 sederhana sesuai dengan ilmu yang saya pelajari.
Sekali lagi, saya tidak memaksa anda untuk mempercayai saya, atau memaksa anda untuk menjalani pengobatan sesuai dengan ilmu Orthopaedi, karena keputusan untuk menjalani pengobatan adalah sepenuhnya hak pasien. Dokter bukanlah Tuhan yang bisa menjanjikan kesembuhan 100% (seperti janji2 yang sering dipasang di iklan pengobatan alternatif), dokter juga manusia biasa yang belajar dan berlatih selama bertahun-tahun demi melakukan pengobatan yang terbaik untuk pasien. Dokter terikat dengan kode etik yang sangat ketat sehingga setiap pengobatan yang dilakukan ada dasar ilmu dan uji klinis/penelitiannya, bukan berdasarkan coba2 atau ilmu yang diwariskan. Tidak ada satupun dokter di dunia, yang berani memberikan janji kesembuhan 100% kepada pasien, karena kami menyadari kesembuhan total adalah milik Tuhan.
Dan meskipun nantinya banyak komentar negatif yang terus masuk ke blog/email saya, saya akan tetap menulis. Menulis adalah hobi saya. Bukan hanya sekedar hobi, tapi sesuatu yang membuat saya bergairah (passionate). Gairah bukan sekedar kesenangan, keinginan. Ini sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata2. Seperti halnya bermain basket. Saya bukan pemain basket profesional, atau pemain basket dengan bakat yang luar biasa, saya hanya sempat bermain untuk klub lokal, dan bermain hanya untuk senang2. Tapi ada sesuatu mengenai bermain basket yang membuat saya merasa sangat “bergairah”, seperti ketika saya melempar bola dari garis three point dan melihat bola itu masuk ke ring, atau ketika saya men dribble bola dan melewati beberapa lawan kemudian melakukan lay up. Perasaan luar biasa itu tidak tergantikan dengan apapun. Dan saya tidak pernah bosan bermain basket, meski ketika saya tidak berhasil masuk ke tim inti, dan harus duduk di bangku cadangan, atau ketika saya tidak masuk seleksi ke tim utama. Tidak ada yang bisa menghentikan saya untuk bermain basket, karena ini adalah passion saya. Demikian juga dengan menulis. Dan karena hidup ini terlalu singkat, dan saya tidak mau menyesal di kemudian hari, seperti kata Alm. Steve Jobs:
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.


