Oleh: dr. Rudy Dewantara
Mem”bedong” bayi atau membungkus bayi dengan kain setelah bayi lahir, sangat umum dipraktekkan di Indonesia. Sebenarnya, teknik membungkus bayi dengan kain setelah lahir dapat dilakukan, asal jangan terlalu ketat. Namun, masih banyak tenaga medis [dokter, bidan, dukun bayi] yang kurang memahami bahwa sebenarnya membungkus bayi terlalu ketat, sehingga memposisikan sendi panggul bayi dalam keadaan ekstensi dan adduksi [lurus dan arahnya mendekati garis tengah tubuh], sangat tidak dianjurkan. Mengapa? Berikut adalah penjelasannya dari sudut pandang ilmu Orthopaedi.
Saat lahir, 1 dari 80 bayi mengalami kelenturan sendi panggul yang berlebihan, dan hal ini mungkin bersifat genetik [Salter, 1999]. Jika setelah lahir, atau pada beberapa minggu pertama usia bayi, sendi panggul diposisikan dalam keadaan lurus/ekstensi dan bayi tersebut memiliki kondisi sendi panggul yang sangat lentur, maka bisa terjadi dislokasi collum femoris [bagian 'kepala' tulang paha]. Dislokasi ini kemudian dapat kembali secara spontan atau akan tetap dalam kondisi seperti itu. Sebenarnya, bayi yang sejak lahir mengalami kelenturan sendi panggul abnormal, secara spontan akan mengalami stabilisasi sendiri dalam 2 bulan pertama. Namun, jika sendi tersebut dipertahankan dalam posisi lurus/ekstensi maka akan cenderung mengalami dislokasi atau subluksasi. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya perubahan skunder yang progresif pada semua struktur di dalam maupun di sekitar sendi panggul. Dan pada akhirnya akan menyebabkan bayi tersebut pada suatu kelainan yang disebut dengan Developmental Dysplasia of the Hip [DDH], suatu kelainan yang apabila tidak diterapi dengan tepat akan mengganggu kualitas hidup individu. Saya akan menulis lebih mendetil mengenai DDH di artikel lain.
Berikut dapat dilihat teknik membedong bayi secara benar [http://rumahkusorgaku.wordpress.com]

Kesimpulannya, bayi yang baru lahir sebaiknya tidak dibalut kain secara erat, atau diposisikan sedemikian rupa sehingga sendi panggul dalam keadaan ekstensi selama beberapa bulan pertama. Dengan melakukan ini maka kita bisa mencegah terjadinya DDH.

October 26, 2008 at 8:09 am
Makasih pak dokter atas infonya. Apalagi ada foto teknik membedong yang benar.
October 31, 2008 at 6:47 am
Terima kasih Bu Mirna. =D
November 10, 2008 at 12:42 pm
Iya jg sih,sbenarnya sy kasian dl anak sy dbedong ketat.tp gara2 ga tau&mnganggap bidan/ibu lbh tau…jd ya nurut saja.makasih dokter.dokter yg aktif nyebar ilmu hrs dperbyk krn org Indo msh nuruti mitos drpd ilmu yg brmanfaat.ini fakta dok,di desa saya ini.sayangnya msh byk gap ant.tenaga medis-masyarakat umum/awam.
November 18, 2008 at 12:16 am
sangat diperlukan pengetahuan bagaimana menangani atau memparlakukan bayi dengan benar !jangan sampai jatuh korban karena ketidak mengertian seorang ibu dalam merawat bayinya. Thanks.nevo PENNSYLVANIA USA
November 18, 2008 at 12:23 am
kami jadi mengerti sekarang,jangan bedong lagi bayi2 anda ! kaml melihat tidak ada diamerika ibu2 membedong bayinya ! biarkan anak2 anda tumbuh dgn wajar dan sehat ! jangan batasi garaknya ! Salam sayang dari kami,PENNSYLVANIA
December 16, 2008 at 4:16 am
Trims infonya ya pak Dokter. Saya kira mengenai teknik membedong bayi yang benar perlu untuk lebih disosialisasikan lagi. Pasalnya saya sendiri yang masih berstatus mahasiswa di salah satu kampus kebidanan baru mengerti tentang teknik itu setelah baca tulisan bapak, coz di kampus saya masih menerapkan metode lama.
December 29, 2008 at 2:13 pm
wah, terima kasih banyak informasinya pak…
moga2 ntar kalau punya bayi…bisa mem bedongnya dengan baik
February 3, 2009 at 1:37 pm
Waa, kenapa saya baru tahu blog ini sekarang? Anak saya dulu saya bedong menuruti instruksi bidan. tetapi saya lepas di usianya yang ke -2 minggu karena bayinya sudah mulai protes. kira-kira akan berdampak buruk tidak ya?
April 9, 2009 at 3:57 pm
jadi gitu ya…
selama ini kita diajarin yang salah????
thx ya…
btw sy baru bikin blog di
http://in2medicalinfo.blogspot.com
tukaran link ya dok