Oleh: dr. Rudy Dewantara
Baru-baru ini saya mendapat jurnal mengenai peran Orthopaedi pada pasien stroke, dan secara kebetulan AAOS dalam salah satu top issue nya di bulan Agustus juga membahas topik serupa, oleh karenanya saya ingin sedikit menulis mengenai hal ini. Bagi yang ingin mendapatkan full-text jurnalnya, silakan email saya di: rudy_dewantara_01@yahoo.com.
Stroke atau CVA [cerebrovascular accidents] seringkali menyebabkan kelainan yang sangat signifikan, termasuk kontraktur pada otot-otot ekstremitias dan deformitas/kelainan yang menyakitkan, sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari hari. Banyak pasien yang harus menanggung derita seumur hidup akibat kelumpuhan otot-otot tubuh, meskipun berbagai upaya rehabilitasi telah dilakukan. Press release AAOS di bulan Agustus menyatakan peran Orthopaedi dalam terapi stroke bertujuan untuk:
- Mengurangi rasa nyeri
- Memperbaiki rentang sendi/ROM
- Memperbaiki penampilan/estetika bagian tubuh yang mengalami deformitas
Dengan tercapainya tiga kondisi diatas, diharapkan pasien dapat kembali melakukan aktivitas sehari hari dengan mandiri, sehingga secara otomatis akan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pada prinsipnya ada dua macam intervensi Orthopaedi, yaitu non-tindakan/operasi dan operasi. Intervensi non operasi misalnya, fisioterapi untuk melatih ROM/rentang sendi, penggunaan orthoses, stimulasi elektrik, atau bloking plexus brachialis yang dapat meredakan rasa nyeri akibat kontraktur. Prosedur bedah Orthopaedi pada prinsipnya sama, yaitu ditujukan untuk mengatasi spastisitas/kekakuan otot, mengatasi nyeri akibat kontraktur, serta mengkoreksi bagian tubuh yang mengalami kelainan ke posisi anatomis sehingga dapat berfungsi dengan baik.
Berikut adalah contoh terapi bedah Orthopaedi pada pasien stroke.
A. Spastic thumb and finger flexor deformities caused by the flexor carpi ulnaris (FCU), flexor carpi radialis (FCR), palmaris longus, flexor digitorum superficialis (FDS), and flexor digitorum profundus (FDP) tendons greatly limit the ability to grasp objects and are aesthetically unappealing.
B. For the patient with a functional hand, fractional lengthening of the wrist and finger flexors allows for improvement of hygiene and functional grasp. The palmaris longus tendon is divided; the FCR and FCU can be transected for Z-lengthening. Fractional lengthening of the FDS and FDP can help relieve the spasticity in the fingers.
C. Intraoperative photograph of fractional lengthening of the FDS and FDP. (Panels A and B adapted with permission from Keenan MA, Kozin SH, Berlet AC: Manual of Orthopaedic Surgery for Spasticity. New York, NY: Raven Press, 1993, pp 13-61.)

December 9, 2008 at 10:18 pm
Saya membaca guidelines ACS (acute coronary syndrome kontra indikasi), apa menghambat penyembuhan luka?, kalau begitu tdk perlu diresepkan pada fraktur tulang utk killing pain?
December 17, 2008 at 3:14 am
Maaf mau minta pendapat tentang penyakit osteomyelitis kronis apakah mungkin menyebabkan kelumpuhan?Mengapa?Tlg diblz y.Terima kasih