Di awal saya menulis blog ini, salah satu tujuan saya adalah untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan informasi yang tepat kepada masyarakat awam, agar berhati-hati dalam berobat untuk kasus patah tulang. Pada artikel saya yang berjudul Patah Tulang bagian 1 dan 2, sudah saya jelaskan apa saja yang sebenarnya terjadi pada tubuh kita ketika terjadi patah tulang, dan bagaimana sebenarnya proses penyembuhan patah tulang. Dan yang paling penting lagi adalah apa sih sebenarnya tujuan utama pengobatan patah tulang. Untuk lebih jelasnya silakan anda baca kembali artikel saya di awal.
Berikut adalah tiga artikel yang saya dapatkan dari blog dr. Rahyussalim SpoT [http://rahyussalim.multiply.com], seorang dokter bedah tulang di Jakarta. Tiga artikel ini menunjukkan kembali kepada kita, bahwa mengobati tulang yang patah bukan hanya sekedar menyambung tulang, namun juga [salah satunya] mementingkan pengembalian fungsi tulang (dan sendi) secara normal, sehingga pasien dapat menggunakan bagian tubuh yang patah tersebut seperti semula. Semoga setelah membaca ketiga contoh kasus dibawah ini, kita semua menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan untuk berobat, khususnya dalam kasus patah tulang.
ARTIKEL 1 Sembuh oleh dukun patah tulang???
Awalnya orang tua penderita hanya iseng ingin memeriksakan anaknya ke saya untuk mengecek apakah anaknya benar-benar sembuh seperti yang dikatakan oleh ahli patah tulang terkenal di daerah jabodetabek ini. Sayapun tidak keberatan. Pada pemeriksaan fisik saya mendapatkan masih adanya bengkak di daerah lutut kanan bagian atas dan sedikit nyeri. Terdapat pergerseran lutut kearah depan. Pada foto roentgen tampak terjadi patah tulang dan pergeseran kearah depan pada bagian lempeng epifisis bagian ujung tulang paha. Pada patahan ini belum terjadi pertumbuhan tulang baru (kalus) secara sempurna.
Beruntung kejadian patah tulang ini tidak disertai oleh luka yang tidak menimbulkan infeksi. Namun mengingat terkenanya lempeng epifisis tulang anak ini saya kira ada potensi gangguan pertumbuhan tulang paha kanan dibandingkan dengan tulang paha kiri. Bila ini terjadi maka di masa mendatang ada peluang terjadi paha kanan lebih pendek dari paha kiri. Ada pula kemungkinan lutut kanan membengkok bisa kedalam membentuk huruf O karena lempeng epifisis yang terkena lebih dominan di sebelah dalam . Saat ini memang penderita tidak mengeluhkan proses yang sedang terjadi pada lututnya. Namun dengan perjalanan waktu proses degenerasi akibat biomekanik lutut yang tidak normal akan mengancam timbulnya osteoartritis dini.
Apa yang bisa kita lakukan pada penderita ini?
Ada 2 hal penting yang perlu kita perhatikan yaitu masalah pertumbuhan tulang paha dan masalah pergerakan sendi. Saya lebih merekomendasikan penderita ini untuk diobservasi ketat per 3 bulan untuk mengevaluasi perkembangannya, sementara itu beban pada lutut kanan perlu kita kurangi sehingga penderita perlu di sarankan untuk mengurangi berat badan, menghindari olah raga lari dan menyarankan olah raga renang. Dari evaluasi terhadap 2 hal ini baru kita rencanakan apakah intervensi operasi rekonstruksi perlu atau tidak kita lakukan…. Semoga saja berbagai potensi buruk yang akan terjadi pada anak ini tidak terjadi…..
ARTIKEL II Kepasrahan seorang nenek yang akhirnya diamputasi setelah ke dukun patah
“yah dok… buat saya yang sudah tua ini apa lagi yang dicari. Sudah tua, tidak perlu jalan2 ke mall, maunya bisa beribadah saja. Mau kaki lengkap mau tidak itu kan urusan yang di atas” demikian jawaban seorang ibu tua ketika saya tanya apa perasaannya setelah akhirnya salah satu tungkainya terpaksa diamputasi karena iskemik akibat bebatan terlalu kuat oleh salah satu dukun patah di jabodetabek. Jawaban pasrah yang seringkali kita dengar dalam keseharian bangsa kita terutama kaum tradisional (pribumi) yang tidak memiliki pendidikan tinggi dan memiliki kepuasan yang rendah terhadap kualitas kehidupan.
Sebenarnya ibu ini datang kesaya tidak karena salah satu tungkainya yang sudah diamputasi (berhubung berobat ke dukun patah dengan risiko kaki busuk sudah dianggap biasa) namun karena keluhan sakit pinggang yang diderita yang membuat dia tidak bisa lagi menikmati hidupnya. Nyeri di pinggang itu membuat nenek ini tidak bisa tidur, sulit makan dan tidak bisa beribadah. Berbagai upaya pengobatan urut tidak bisa membantu mengurangi nyeri tersebut malah ada kecenderungan makin parah.
Salah seorang anggota keluarganya yang kebetulan ikut mengantar ke saya menanyakan adakah hubungan sakit pinggang yang sekarang dengan kehilangan salah satu tungkainya. Saya menjelaskan bahwa sangat berhubungan. Kehilangan satu tungkai pada ibu ini menyebabkan ketidak seimbangan pada strukutur tulang belakang. Untuk membuat badan seimbang pada posisi tegak maka tulang belakang mencoba mengkompensasi dengan membentuk formasi skoliosis. Akibatnya dalam beberapa waktu kemudian terjadi gangguan saraf di tulang belakang. Kalau proses ini belum berlangsung lama maka pengobatannya dapat dillakukan dengan menganjurkan si ibu untuk menggunakan kaki palsu. Masalah nya sekarang adalah Ibu ini enggan menggunakan kaki palsu atau tongkat untuk menyangga tubuhnya…… duh…mau diapain???!! Maunya instan enakkkkk..
ARTIKEL III Mata kaki di urut dukun, malah tulang betis busuk terinfeksi
“Mulai sekarang saya tidak akan pernah lagi membawa anak saya ke dukun patah. Saya benar2 kapok. Ketika anak saya terjatuh 9 bulan yang lalu hampir semua saudara dan tetangga menyuruh saya membawa Canti (nama samaran) ke dukun urut di bogor sana” demikian paparan seorang ibu muda ketika membawa anak perempuannya berumur 5 tahun yang bernama Canti ke poliklinik tempat saya bekerja. Canti menurut keterangan ibundanya sedang bermain sepeda bersama temannya. Karena keasikan bermain Canti terjatuh dan mengeluh nyeri di sendi mata kaki kirinya. Awalnya tidak begitu nyeri dan bengkak. Setelah 2 hari Canti mulai rewel dan enggan menginjakkan kakinya kirinya sehingga canti terlihat pincang kalau berjalan. Karena khawatir akan kaki anaknya Canti mau dibawa ke rumah sakit, namun karena banyak informasi yang melarang dibawa ke rumah sakit bahkan sebagian ada yang menginformasikan kalau di rumah sakit kakinya akan di potong maka oleh ibunya Canti dibawa berobat ke salah sebuah tukang urut terkenal di daerah Bogor. Mulai lah si dukun urut yang tidak pernah teruji kompetensinya melakukan pengobatan kepada Canti. Canti diurut / dipijat pada mata kakinya dan kemudian di pasang bebat pada tungkainya setinggi pangkal betis. Menurut keterangan ibunya Canti dibebat hingga 20 hari. Selama hampir 3 minggu itu bukan perbaikan yang diperoleh bahkan tungkainya mulai membengkak dan memerah. Canti semakin rewel dan semakin tidak bisa berjalan. Ketika ditanya ke dukun urut yang mengobati anaknya si dukun hanya menjawab supaya bersabar dan bentar lagi juga akan sembuh. Setelah ditunggu hingga 6 bulan ternyata tidak perbaikan bahkan tulang tungkai Canti malah menongol keluar. Ketika datang ke hadapan saya Canti sudah tidak bisa jalan setelah saya lakukan pemeriksaan ternyata terjadi Osteomyelitis kronis pada tulang tibia Canti.




September 19, 2008 at 8:38 am
duhhh… maaf lama gak mampir kesini… dok… hehehe… aku jangan ditulis dr. Lyla dong… aku kan bukan dokter hehehe… malu ah…aku kan orang biasa aja… cuma seneng aja baca tips2 kesehatan dan bagi2 sama temen2 hehehe…
September 19, 2008 at 9:08 am
Wah ternyata mengerikan ya dok kalau kita ke dukun patah tulang. Tapi ada juga saudara saya waktu itu pernah patah tulang kemudian dibawa ke dukun kok bisa sembuh ya dok?
October 7, 2008 at 2:23 am
Terimakasih dok, artikel in cuma sedikit relita yang sebenarnya banyaksekali ada di masyarakat. Boleh kah artikel in saya cetak untuk dipublikasikan di ugd tempat saya bekerja? untuk menyadarkan masyarakat yang jauh lebih percaya untuk berobat ke dukun patah tulang daripada ke orthopaedi?
October 7, 2008 at 3:32 am
@TS Rhyan. Silakan, saya justru merasa senang sekali. Boleh tau di RS mana dokter bekerja?
October 18, 2008 at 12:17 pm
My name is Hanung Sunarwibowo, I attended orthopedics & traumatology residency In Faculty of Medicine in University of Indonesia together with Dr Rahyussalim. In fact, I consider him as my most trusted friend during more than 5 years of residency. My position now is in Naval Hospital at Tarakan in Northern part of East Kalimantan, not far from Indonesian borderline with the Malaysia. See you again in another orthopedics forum..!
October 25, 2008 at 5:18 am
Brother Rudy,… the pioneer of the orthopedic services in Indonesia faced much more serious cases due to the treatment of traditional bone setter whose believe they have a kind of supra natural healing abilities. The late Prof dr Soelarto Reksoprodjo SpB wrote some scientific papers discussing problems of orthopedic neglected cases which many of them caused by the bone setters. Only by education to the whole people and also the medical professionals; producing more orthopedic surgeons and then well distributed orthopedic service all over Indonesia will gradually changes the situation bit by bit.We have to educate the people to be more rational in seeking help for their musculo skeletal problems. The other important problems is the accessibility of the health services provider. Soon you will realize this not long after involving in this particular problems. Good luck. See you again.
November 10, 2008 at 6:17 am
dr rahyussalim, saya sewaktu bekerja di igd mendapati kesan bahwa orang2 cenderung berobat ke dukun patah tulang karena mereka menganggap pergi ke sana lebih murah dibanding op.namun setelah menganamnesa para pasien2 neglected, ternyata harga pergi ke dukun lebih MAHAL tapi tidak terasa karena menggunakan sistem “nyicil”,mulai dari 25rb,tapi terakumulasi hingga berjuta2 tanpa hasil yang memuaskan,lain dengan op yang langsung kontan di muka sehingga pasien kaget melihat biayanya namun dengan hasil yang jauh lebih baik(karena disertai ilmu pengetahuan dan teknologi).Para dukun yang merasa punya ability supranatural itu mungkin sedikit banyak telah membaca Salter dimana ada kalimat “…cooperate with the law of nature..”.yah..mrk tahu tulang akan beregenerasi,namun regenerasi yang seperti apa..nonunion,malunion?memang sepertinya kembali lagi ke mindset dan price.kasus trauma muskuloskeletal cukup banyak di negara ini,namun harga yang dibayar terlalu mahal..apa mungkin ada kebijakan untuk setidaknya semua pekerja tercover dengan asuransi yang meliputi biaya op dan alat?dan rakyat miskin mempunyai asuransi?sehingga tertutup kemungkinan mereka pergi ke dukun, dilain pihak masih sering terjadi penyelewengan askeskin…rasanya masih jauh yah ke utopia orthopedi..pendapat dokter bagaimana?ps:mindset para pasien justru menganggap ortho adl pengamputasi, padahal kondisi “dead,dangerous,damn nuisance” tsb diciptakan oleh aksi dukun patah tulang tersebut…how annoying ya…
July 14, 2009 at 9:28 am
kq yg di expos hy dkn jabotabek?!? buktinx kaki saya n orang laen yg berobat smbuh tnpa efek dan normal kembali!!! saya tinggal di blora, jawa tengah.
November 10, 2008 at 6:18 am
oh maaf, dr rudi..saya salah membaca alamat blognya
November 24, 2008 at 3:43 am
siang Dr. Rudi,sy punya ibu yg belum lama ini jatuh dr ketinggian atap plafon,,dan hasil x-ray photo adalah fraktur os calcneus kanan dan destruksi os calcaneus kiri,,dan disitu diberi penjelasan tampak garis radiolucent pada os calcaneus kanan dan reaksi periosteal pada os calcaneus kiri. Tulang lain intak. Sela sendi baik. Soft tissue normal..
sy ingin menanyakan apakah bisa diobati dengan cara pengobatan medis,,mengingat jatuhnya sudah cukup lama yaitu sekitar 3 bulan,,dan sebelumnya sudah pernah dipegang sama dukun urut didaerah pondok kelapa..sy sangat mohon bantuan nya kepada dokter, baik nya bgm.
April 5, 2009 at 6:31 am
Mohon Bantuannya dok. Nama saya maulana, usia 30 th. pada tgl 14 mar 09, saya terjatuh dari motor dan lutut kiri saya membentur aspal. Stlh jatuh, kaki saya langsung terasa nyeri dan ada luka memar di lutut, walaupun pada saat itu saya masih bisa pulang dengan membawa motor. Ketika itu saya langsung diurut dan 3 hari kemudian berobat ke puskesmas dan di beri obat Asam nematamat sekaligus di rontgen. Hasil Rontgen tidak ada tulang yg patah semua baik-baik saja. Sekarang kondisinya sdh baikan, sudah bisa berjalan, luka memar sdh sembuh. Tapi sampai saat ini saya belum bisa jongkok secara full (Walaupun sdh pakai knee decker), kalau kaki kiri saya tekuk lebih merapat rasanya sangat nyeri sekali dan sekarang masih ada gumpalan di atas tempurung lutut. Mohon bantuannya Pak dr. Rudy.
Apa yg harus saya lakukan supaya lutut saya bisa kembali pulih 100%. Obat apa yg dpt saya konsumsi?
Terima Kasih.
April 5, 2009 at 11:18 am
Selamat sore Dok.
Sy terlambat membaca artikel anda. Sy mau nanya; sebelumnya sy akn cerita dulu. pd tgl 25 Oktober 2008 sy jatuh dr motor dan persis atas siku kiri sy patah sedang siku pecah jadi dua. sy mau di oprsi tp sy takut, sy ke dukun patah tulang, sampai 4 bulan tdk nyambung, akhirnya sy nyerah untk dioperasi pd tgl 5 Maret 2009. Setelah operasi sampai sekarang jari mais dan kelingking saya belum normal, masih suakiit kyk kraam dan kesemeutan yg amat sangat. Apakah keadaan saya sekarang masih wajar karena dalam masa penyembuhan, atau ada sesuatu yg salah ya Dok??
Terima kasih atas jawaban Dokter.
May 1, 2009 at 1:59 am
halo dok nama saya yulizar, umur 33 tahun
menderita patah tulang dada bagian atas, dekat leher. patahnya
dekat ke bahu kanan. apakah aman konsumsi obat diclofenac sodium dan
ciproflexacin.
terima kasih,..
August 20, 2009 at 7:08 am
halo dok saya c masih kuliah d FK unej n sekarang ini sedang melakukan skripsi yang berjudul “hasil penanganan dukun patah tulang pada penderita patah tulang dewasa di jember”
wah hasilnya bener2 kasihan dok tapi banyak diantara masyarakat meskipun secara klinis saja sudah terlihat bahwa terjadi malunion pada daerah fraktur yang di alami mereka menganggap pekerjaan dukun patah tulangnya itu sangat bagus hingga ketika saya tunjukkan hasil pemeriksaan secara radiologis mereka baru kaget setengah mati
menurut saya hal ni tu merupakan dampak dari rendahnya pengetahuan masyarakat dan kurangnya sosialisasi pihak kesehatan terhadap masyarakat kelas menengah kebawah terhadap patah tulang…….
salam kenal y dok…..
September 5, 2009 at 10:21 pm
Ayah saya jg patah tulang .
Sudah operasi 2X tp setelah operasi yang ke dua malah tambah sakit dok .
Saran dokter gmn nie ?
Obat apa yang sekiranya cocok buat ayah saya ?
September 5, 2009 at 10:22 pm
.
September 5, 2009 at 10:23 pm
?
October 12, 2009 at 7:55 am
halo dok, nama saya jovi, usia 20 thn, alamt di medan..
saya mau tanya nih dok.
saya pernah mengalami patah tulang paha krna kecelakaan..
krna alasan biaya, orang tua saya memutuskan tuk membawa saya ke dukun patah, setelah sebulan dirawat disana akhirnya saya pun bisa berjalan kembali…
tp ada keanehan yg saya rasa, ternyata tulang paha saya tidak tersambung tepat seperti semula, jdinya panjang tulang paha saya tidak sama…
aq mau mau tanya ma dokter..
bisa ga tulang paha saya kembali seperti semula, tanpa operasi??
October 20, 2009 at 4:31 am
selamat siang dokter
nama saya rizky, saat ini anak saya baru saja menjalani operasai patah tulang pada paha kanan (awal puasa )setelah membaca artikel diatas saya sedikit bersyukur karena saya tidak jadi membawa anak saya kespesial patah tulang yang semula sempat saya fikirkan kesana, anak saya saat ini masih pake krug kalo jalan dengan kaki yang belum boleh untuk menopang beban, pertanyaan kami obat apakah yang bisa cepat untuk penyembuhan patah tulang ini,saat ini obat yang dar dokter Bon one, osteocarre,terimakasih dokter