Blog pindah ke RudyKwang.com

Untuk selanjutnya saya akan menulis di situs yang baru, silahkan akses di: RudyKwang.com.

Terima kasih.

Kumpulan Pertanyaan yang Sering Masuk di Blog/Email

Sebagian besar pertanyaan yang masuk ke blog dan email saya rata-rata sama. Oleh karena itu saya akan membahas satu persatu disini. Sementara saya bahas beberapa pertanyaan dulu, nanti saya update satu persatu.

Tanya: Ada teman/saudara saya yang dulu katanya patah tulang, kemudian berobat ke dukun/sangkal putung/tradisional dan ternyata sembuh.

Jawab: Saya sering mendapat pertanyaan ini, bahkan dari saudara saya sendiri. Saya tidak bisa berkomentar banyak kalau ada yang berkata seperti ini, pertama karena umumnya mereka selalu bilang “katanya”,  iya kalau fraktur, kalau tidak? kalau cuma ada trauma pada otot, dipasang bidai, istirahat beberapa hari juga sembuh. kedua, saya tidak melihat foto rontgennya apakah benar ada fraktur atau tidak. Tidak semua fraktur harus dioperasi, justru sebagian besar fraktur bisa ditangani dengan non operasi. Misal fraktur clavicula/tulang selangka, atau fraktur pada tulang tangan dengan tanpa pergeseran (lihat gambar).

Gambar diatas (tanda panah) menunjukkan adanya fraktur pada tulang kering anak-anak. Pengobatan utamanya adalah dengan memasang gips, tidak perlu operasi (kecuali ada luka terbuka yang harus dioperasi/dibersihkan untuk menghindari infeksi) dalam waktu 2-3 bulan gips sudah bisa dilepas.

Gambar diatas menunjukkan fraktur tulang selangka/clavicula. 90% lebih fraktur seperti ini akan menyambung, tidak perlu operasi. Cukup dipasang figure of 8 seperti gambar dibawah selama 4-6 minggu. Operasi dan pemasangan pen diindikasikan, diantaranya pada kasus: patah tulang terbuka, adanya gangguan saraf/pembuluh darah yang menyertai fraktur, atau patah tulang selangka kanan dan kiri.

 

Tanya: Tulang saya cuma “retak” tidak patah, apakah perlu dioperasi?

Jawab: Dalam ilmu kedokteran, kita tidak membedakan antara retak dan patah. Istilahnya hanya satu, yaitu fraktur yang didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang. Masyarakat awam, cenderung menganggap “retak” sebagai kondisi yang lebih ringan dibandingkan patah, padahal tidak demikian. Penanganan fraktur memang bisa dengan tanpa operasi atau operasi, dan pertimbangannya banyak mulai dari usia, lokasi fraktur, jenis dan tipe fraktur dan sebagainya.

Tanya: Orang tua saya, kakek saya, saudara2, teman2 saya kalau keseleo selalu ke tukang urut/pijat tradisional, dan selalu sembuh. Kenapa kok dokter mengatakan bahwa keseleo sebaiknya tidak dipijat?

Jawab: Pijat/urut memang sudah menjadi tradisi/budaya pengobatan di Indonesia sejak jaman dulu. Dulu, ketika saya masih SMP, setiap keseleo saat bermain basket, orang tua saya juga selalu membawa saya ke tukang pijat. Saya masih ingat sakitnya ankle/pergelangan kaki saya saat diurut, padahal saat itu kondisinya sangat bengkak, memang beberapa hari kemudian bengkaknya hilang. Tapi, sekali lagi.. itu dulu. Tahukah anda, dulu sebelum Galileo Galilei menemukan teleskop, sebagian besar orang di dunia mengikuti keyakinan Nicolaus Copernicus yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya? Dan bahwa bumi itu tidak bulat? Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, pada akhirnya keyakinan yang salah dan dipegang sebagian besar penduduk dunia itu akhirnya dipatahkan.

Sama halnya dengan keseleo. Jaman dahulu, ilmu kedokteran  belum banyak berkembang, jumlah dokter masih terbatas, maka banyak kasus trauma/keseleo yang ditangani oleh orang non medis melalui tindakan yang kurang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sekarang dengan perkembangan ilmu traumatologi yang sangat pesat, kita bisa memahami, apa sih sebenarnya yang terjadi ketika kaki keseleo (selengkapnya baca artikel saya mengobati keseleo dengan benar). Dan sebaiknya, begitu keseleo, dilakukan pemeriksaan foto rontgen, untuk menyingkirkan kemungkinan terjadi patah tulang.

Sekarang kenapa setelah dipijat bisa sembuh/mereda? Penanganan keseleo memang cukup dengan istirahat, bebat, dan elevasi serta pemberian anti nyeri seperlunya (RICE). Cukup anda “biarkan” selama 3-5 hari bengkak akan berkurang sendiri. Pada saat keseleo, sudah terjadi trauma pada otot, ligament, tendon, tindakan mengurut/memijat hanya akan memperberat kondisi trauma yang sudah terjadi. Meskipun demikian, pada akhirnya trauma tersebut juga akan mereda. Ini adalah proses alami tubuh, proses kesembuhan terjadi sudah ada polanya/tahapannya, yang diawali melalui proses inflamasi atau peradangan. Bila ada trauma tambahan akibat memijat, maka proses peradangan ini akan semakin memanjang.

Contoh Kasus Malpraktik di Bidang Orthopaedi: Bagian II

Gas Medik Yang Tertukar [1]

Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi. Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anestesi terlebih dahulu. Pembiusan dilakukan oleh dokter anestesi, sedangkan operasinya dipimpin oleh dokter ahli bedah tulang (ortopedi).

Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernapasan hingga tidak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus menerus di perawatan intnsif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator). Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnya.

Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan pada pemasangan gas anestesi (N2O) yang dipasang pada mesin anestesi. Harusnya gas N2O, ternyata yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak. Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat pernapasan (respiratory distress) sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien menjadi tidak sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan ”sederhana”, namun berakibat fatal.

Dengan kata lain, ada sebuah kegagalan dalam proses penempatan gas anestesi. Dan ternyata, di rumah sakit tersebut tidak ada standar-standar (SOP) pengamanan pemakaian gas yang dipasang di mesin anestesi. Padahal harusnya ada standar, siapa yang harus memasang, bagaimana caranya, bagaimana monitoringnya, dan lain sebagainya. Idealnya dan sudah menjadi keharusan bahwa perlu ada sebuah standar yang tertulis (misalnya warna tabung gas yang berbeda), jelas, dengan formulir yang memuat berbagai prosedur tiap kali harus ditandai (cross) dan ditandatangani. Seandainya, prosedur ini ada, tentu tidak akan ada, atau kecil kemungkinan terjadinya kekeliruan. Dan kalaupun terjadi, akan cepat diketahui siapa yang bertanggung jawab.

Karena itulah, aturan-aturan dan SOP ini sangat penting, yang termasuk dalam PDRS (peraturan dasar rumah sakit) atau PD Medik (peraturan dasar medik / Hospital by Laws & Medical by Laws) dan dapat dipakai untuk pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan perkara karena Hospital by Laws dapat merupakan ”perpanjangan tangan hukum”.

[For Doctors] Listen and Talk More to Our Patients

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dokter2 di Indonesia saat ini menghadapi krisis kepercayaan dari masyarakat. Terutama berkaitan dengan tuduhan2 bahwa dokter indonesia banyak melakukan “malpraktik”. Meskipun kadang2 jengkel juga mendengar banyak orang berkoar2 tentang malpraktik tanpa mengetahui arti sebenarnya dari malpraktik itu sendiri. Untuk lebih jelasnya mengenai definisi malpraktik dan hal-hal terkait, silakan baca artikelnya di:

http://everythingaboutortho.wordpress.com/2008/06/28/malpraktik-sejauh-mana-kita-sebagai-seorang-dokter-memahaminya/

Kalau kita perhatikan, sebagian besar kasus dugaan malpraktik yang tersebar di media, ternyata adalah akibat miskomunikasi. Sangat disayangkan memang..

Nah, kebetulan pula beberapa hari terakhir, di suatu forum dimana saya menjadi anggotanya, saya melihat semakin banyak yang mengeluhkan cara dokter2 di Indonesia berkomunikasi. Ada yang kecewa karena dokter kurang bisa menjelaskan dengan baik penyakit pasien, sehingga seringkali pasien pulang tanpa mengerti betul penyakitnya. Ada juga yang jengkel/marah karena dokter menggunakan kata2 yang cenderung “kasar” atau menyinggung pasien, dan sebagainya. Yah.. saya sendiri, terus terang juga pernah mengalami hal ini.

Intinya, setelah melihat keluhan2 pasien diatas, sepertinya dokter2 di Indonesia kurang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Padahal dengan meluangkan waktu sedikit lebih banyak untuk pasien, mendengarkan keluhan mereka, berbicara/menjelaskan mengenai penyakit yang diderita pasien, pilihan pengobatan yang dipunyai pasien, kemungkinan perjalanan penyakit, komplikasi dan lain2, sudah merupakan bagian dari pengobatan itu sendiri.

Saya ingat suatu kata2 indah yang ditulis oleh Robert Bruce Salter [dokter orthopedi terkemuka]:

The duty of a doctor is to cure sometimes, to relieve often and to comfort always

Kata2 diatas benar2 sangat menyentuh. Sayangnya, sebagian dokter di Indonesia kurang benar2 memperhatikan hal ini. Seringkali kita meng- “under estimate” pasien dengan berpikir bahwa “seandainya pun kita jelaskan penyakitnya, toh pasien tidak akan mengerti”, atau seringpula karena saking banyaknya pasien, waktu untuk berkomunikasi jadi berkurang. Padahal, berkomunikasi dengan pasien merupakan langkah utama dalam membantu pasien mengatasi masalahnya, baik penyakitnya maupun psikologisnya.
faktor psikologis pasien ini sangatlah penting, hal ini pernah disinggung oleh Socrates yang berkata

We ought not treat the body without the mind

Oleh karena itu, Continue reading

Rehabilitasi: Suatu “Beban” untuk Dokter Orthopaedi?

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Pendahuluan

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke UGD untuk kontrol, setelah satu bulan lalu ketiga jari di tangan kirinya terpotong oleh gergaji mesin. Sekarang, pasien sudah tidak mengeluhkan rasa sakit, namun ia masih menghadapi suatu masalah yang tidak kalah pentingnya. Pasien tersebut tidak hanya menghadapi rasa sakit yang parah, resiko infeksi maupun shok, namun juga masalah fungsi normal tangan kirinya. Seorang dokter orhopaedi, yang tidak hanya dibekali dengan ilmu dan skill, namun juga sikap kemanusiaan terhadap pasiennya [belas kasih, pemahaman, pengertian, empati, dan lainnya], juga harus menghadapi hal ini. Dokter orthopedi harus memikirkan bagaimana caranya agar pasien bisa kembali menggunakan tangan kirinya untuk fungsi sehari-hari.

Rehabilitasi

Filosofi untuk memperhatikan pasien secara total, serta terus menerus memberikan perhatian terhadap pasien bisa disebut dengan rehabilitasi. Tujuan utama rehabilitasi adalah mengatasi masalah pasien [baik masalah fisik, mental atau sosial], serta terus membantu pasien dalam proses pengobatan, kemudian melatih, mendidik dan memberikan dukungan agar pasien dapat menghadapi masalah kecacatan [yang mungkin tidak dapat lagi diperbaiki], sehingga kualitas hidupnya dapat meningat, menjadi tidak bergantung lagi pada orang lain. Rehabilitasi berarti “bertindak lebih jauh” untuk pasien, memberikan perhatian dan dukungan secara penuh. Dan hal ini berlaku untuk semua bidang kedokteran.

Continue reading

Rehabilitation: A “Burden” for Orthopaedic Surgeons?

By: Rudy Dewantara MD

Preface

A 30 year old man came to ER after having his second, third and fourth phalanx of the left hand chopped by a saw machine. He had to had his three fingers amputated, leaving only the proximal phalanx. And now a month after the surgery, while the pain has subsided, he still have to deal with a frustating problem related to the function of his left hand. It is obvious that the patient isn’t merely dealing with severe pain, risk of infection or even shock, due to his chopped hand [now that it has been overcome]. The most devastating problem for the patient is related to the effort of regaining the normal function of his left hand, which is definitely way more difficult to deal with. An orthopaedic surgeon, who’s not only provided with art and science but also a humanistic attitude towards patients [compassion, understanding, warmth, kindness, empathy, etc], will also have to cope with this, together with other specialist.

Rehabilitation

The philosophy of total care of the patients as well as continuing care for them refers to rehabilitation. The broad aim, or goal, of rehabilitation is to correct, insofar as is possible, the patient’s problem [whether it be physical, mental or social] and in addition to continue to help him or her by treatment, training, education and encouragement to cope with residual uncorrectable portion of the problem and his or her attitude toward it, in order that his or her life may be changed from one of dependency to one of independence, from one that is empty to one that is full. In a sense, rehabilitation is ‘going the second mile’ and often farther with patients, and it is applicable to the disabling problems of all fields of medicine and surgery. [Salter, 1999]


Continue reading

Peran Orthopaedi dalam Proses Pemulihan Pasca Stroke

Oleh: dr. Rudy Dewantara

Baru-baru ini saya mendapat jurnal mengenai peran Orthopaedi pada pasien stroke, dan secara kebetulan AAOS dalam salah satu top issue nya di bulan Agustus juga membahas topik serupa, oleh karenanya saya ingin sedikit menulis mengenai hal ini. Bagi yang ingin mendapatkan full-text jurnalnya, silakan email saya di: rudy_dewantara_01@yahoo.com.

Stroke atau CVA [cerebrovascular accidents] seringkali menyebabkan kelainan yang sangat signifikan, termasuk kontraktur pada otot-otot ekstremitias dan deformitas/kelainan yang menyakitkan, sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari hari. Banyak pasien yang harus menanggung derita seumur hidup akibat kelumpuhan otot-otot tubuh, meskipun berbagai upaya rehabilitasi telah dilakukan. Press release AAOS di bulan Agustus menyatakan peran Orthopaedi dalam terapi stroke bertujuan untuk:

  1. Mengurangi rasa nyeri
  2. Memperbaiki rentang sendi/ROM
  3. Memperbaiki penampilan/estetika bagian tubuh yang mengalami deformitas

Dengan tercapainya tiga kondisi diatas, diharapkan pasien dapat kembali melakukan aktivitas sehari hari dengan mandiri, sehingga secara otomatis akan meningkatkan kualitas hidupnya.
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.